Target Saya Bukan (lagi) Menjadi The Next Master Chef Indonesia!

6 Aug

Hari ini, saat memasuki Galeri Masterchef saya mulai mengubah persepsi pola pikir saya… Bukan lagi terpaku dengan target menjadi The Next Master Chef Indonesia, Tapi saya memfokuskan diri untuk maju selangkah demi selangkah… dari 15 besar menjadi 14 besar. Dari 14 besar menuju 13 besar dan seterusnya hingga meraih tempat utama. Setelah merenung dan berpikir semalaman, saya banyak mengevaluasi kekurangan diri sendiri. Target yang saya pasang memang jauh, namun saya melupakan setiap proses yang harus saya lalui untuk mencapai target utama saya tersebut! Sehingga saya kurang fokus dalam setiap prosesnya.

Hari ini saya bertekad, bahwa target saya adalah untuk maju dari satu level naik ke level berikutnya. Jadi, sekarang saya tidak lagi memikirkan menjadi The Next Master Chef Indonesia, namun saya fokus melangkah perlahan dan menikmati setiap pembelajaran di setiap jenjang ini. Ini adalah strategi saya untuk dapat berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari. Saya tidak ingin mengalami “Rollercoaster Graphic” atau grafik perkembangan yang naik turun. Saya ingin berkembang secara konsisten. Maju terus! Bukan maju mundur lalu maju lagi. Semoga dengan strategi ini, saya bisa memanfaatkan karantina ini untuk memacu saya belajar dan berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Siang itu, ketika berdiri di depan podium Chef Master, kami ditantang untuk menduplikasi makanan salah satu chef terkenal dg taraf international.. Saya mencoba menebak-nebak, Chef siapa lagi yang akan menjadi bintang tamu kali ini? Tak lama kemudian muncullah seorang chef dengan baju hitam, tapi itu kan si Ipul! Salah satu cook di kitchen Master Chef! Lalu? Mana International Chef-nya?

Namun rupanya si Ipul memang diutus untuk menjadi si pembawa kejutan. Kita semua terperangah kaget melihat Ipul menunjukkan sebuah chef jacket yang ternyata adalah milik Chef Master Degan. WOW! Kita hampir lupa kalau juri kita adalah Chef bertaraf International! Makanan yang harus kami duplikasi adalah Yam Nee atau Thai Beef Salad. One of my favourite dish, sangat cocok disebut Appetizer karena rasanya yang segar dan mengundang selera makan.

Makanan yang berbahan dasar dari beef tenderloin dengan Thai dressing ini harus diselesaikan dalam 45 menit.

Saat food testing, saya mendapat giliran yang kedua. Dalam hati saya sangat optimis bahwa makanan ini mampu memikat hati dan lidah para juri tetapi mereka berpendapat lain, dagingnya terlalu kecil dan plattingnya terlalu rapi sehingga terkesan dicetak. Padahal dari segi rasa cukup enak dan balance…

Saat judging Chef Juna memanggil saya suara yang saking tegasnya mampu membuat nyali para kontestan ciut seketika.

Chef Juna :  “Menurutmu pressure pointnya dimana?”

Ken : “Ada di tingkat kematangan daging, dan keseimbangan rasa sauce”

Chef Juna : “Menurutmu apakah kamu bisa menjadi pemenang?”

Ken : “Maybe chef”

Chef Juna : “Saya paling ngga suka jawaban seperti itu. Sayang sekali itu bukan kamu”

Ken (dalam hati) : “Sial!!! Kena lagi deh!! Mendingan tadi sekalian saya jawab IYA SAYA YAKIN SAYA PEMENANGNYA!!”

Di challenge kedua, Ikan Gabus atau Snake Head Fish adalah One Core Ingredient yang harus diolah. Mengolah ikan adalah hal biasa, tapi mengolah ikan dari saat ikan tersebut hidup, pasti mengundang kehebohan!

Benar saja, Nurul yang sedang hamil dilanda dilema. Menurut mitos, tabu jika membunuh binatang pada saat sedang hamil. Saya spontan memutuskan untuk membantunya meskipun itu akan menyita waktu yang saya miliki. Yang ada dalam benak saya saat itu adalah apabila istri saya yang hamil dan diposisikan di hal yang sama, saya sangat berharap ada seseorang yang berbaik hati membantunya…

Live Snake Head Fish

Di challenge ini saya berpikir untuk mengolah Ikan Gabus tersebut dalam kuah Tom Yam tetapi ketika saya tidak menemukan salah satu bahan utamanya yaitu daun ketumbar… maka saya memutuskan untuk membuat menu yang lain yang menyerupai Tom Yam. Sup  Ikan Gabus Asam Pedas yang disajikan dengan Vermicelli (bihun).

Menurut para Chef Master, rasanya Sup ini enak, menyerupai Tom Yam tapi sayang porsinya terlalu banyak. Dan saat penyajian, sebaiknya mienya tidak dicampur.

Di challenge ini saya tidak menjadi pemenang tapi progress kemajuan mulai kelihatan… Puji Tuhan! Semoga saya bisa mempertahankan dan meningkatkannya.

Beng, Agus, Zeze, Vera dan Widya harus masuk Pressure test kali ini. Setelah satu jam lebih mereka didalam, mereka menemui kami di Holding Room sambil berkata sambil menangis  “Selamat kalian sudah 10 besar” “WHAT!

Dalam hati saya berkata “Mereka dipulangin semua!!

Lalu mereka menjawab dengan santai “Tapi kita ngga ada yang dipulangin” spontan ruangan menjadi hening….  huh…Ternyata kita dikerjain.
Tidak ada yang pulang di episode ini karena menurut para juri, seluruh hasil masakan di Pressure Test kurang bagus.

At that day, I promise to my self to stay focus and to set my target wisely! Maju selangkah demi selangkah hingga menjadi Pemenang kompetisi ini! Menata target agar pandangan lebih terarah, membuat target-target kecil yang harus dicapai dalam rangka mencapai Goal utama menjadi seorang pemenang!

Jadi, tidak salah kan kalau saya bilang bahwa target saya saat ini bukan (lagi) menjadi The Next Master Chef Indonesia. Hahaha..

3 Responses to “Target Saya Bukan (lagi) Menjadi The Next Master Chef Indonesia!”

  1. Anthony Naibaho (@AnthonyAngkhat) August 11, 2012 at 1:51 pm #

    Maju Terus om Ken..
    I proud of you..
    be the best among the best..
    wish you the best🙂

  2. ratningsih September 10, 2012 at 6:19 am #

    maju terus ken

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: